Kami selalu tidak dapat membangun masa depan bagi generasi muda kita, tetapi kita dapat membangun generasi muda kita untuk masa depan.
Franklin D. Roosevelt

Senin, 24 Mei 2010

lagi suka mendaki neeh

sudah lama gak ngedit blog
syukur sekarang dah ada waktu lagi buat edit edit blog,hhe

oya neh ada cerita waktu pendakian gunung rinjani

Hari ke 1 Jakarta – Mataram – Sembalun
Jemput di airport selaparang, melakukan perjalanan darat menuju desa sembalun dan bermalam di Desa Sembalun, Desa sembalun memiliki ketinggian 600mdpl, bermalam di Homestay.

Hari ke 2 Sembalun – Sembalun Lawang
Setelah sarapan pagi, melapor ke pos pendakian di Rinjani Trekking Center dan bersiap untuk memulai Trekking mendaki gunung Rinjani, lewat desa sembalun perjalanan ini akan menempuh kurang lebih 5-7 jam disesuaikan dengan kemampuan peserta makan siang di Pos 2, , dan akan bermalam di Pos 3 – plawangan plawangan sembalun dengan ketingginan 2641 mdpl. Bermalam di Tenda

Hari ke 3 Puncak Rinjani – Segara Anakan
setelah makan pagi jam 2.30 di dampingi guide memulai pendakian ke puncak gunung rinjani dengan ketingian 3726 dengan jarah tempuh pendakian sekitar 3 sampai 4 jam setelah tiba di puncak, kita akan kembali turun dan setelah makan siang perjalanan menurun menuju Danau Segara Anakan, relax days

Hari ke 4 Segara Anakan – Senaru – Senggigi
Setelah makan siang perjalan untuk menuju desa senaru lewat jalur plawangan senaru akan di tempuh sekitar 6-7 jam, sore hari tiba di senaru. Lalu transfer ke Senggigi beach, bermalam di Hotel.

Hari ke 5 Gilis Full Day Tour
Full days tour ke Gili Trawangan, gili meno dan Gili air dengan Carter Boat, kembali ke Hotel yang sama.

Hari ke 6 Tranfer ke Airport.

End trip

Apa Saja yang perlu di Bawa:
*daypack atau backpack (no koper / no travel bag).
*Sleeping Bag
*Alat Pancing
*Sepatu dan Sandal trekking
*Jacket Panas
*Raincoat (jas Hujan)
*Pakaian secukupnya (praktis & gampang kering)
*Obat-obatan pribadi.
*Makanan kecil atau snack.
*Kamera, handycam, Senter, battery dan Batery charger.
*Senter
*Sunglasses
*Lain-lain sesuai dengan kebutuhan pribadi seperti peralatan Mandi

Selasa, 12 Mei 2009

pemikiran pemikiran

Dimanakah letak pikiran itu?

Letak pemikiran itu ada di tubuh, leher dan kepala, hmmmm analoginya begini dalam ilmu anatomi atau praktek kedokteran sehari hari, tubuh manusia kalo di preteli kan cuman ada 5 bagian yang ga bisa di preteli lagi atau bahasa kerennya autopsy :D…. kelima bagian itu terdiri dari :
kepala, leher dan tubuh/badan
tangan kanan
tangan kiri
kaki kanan
kaki kiri
nah wajar ketika disimpulkan dimanakah factor dominant yang mempengaruhi sebuah pemikiran? Jawaban-nya adalah yang nomer 1 lah, coba liat aja kalo laper langsung bereaksi kedalam pola pemikiran, begitu juga kalo kebelet pipis, haus, terkejut dan sbagainya pokoknya semua alat yang di nomer satu tersebut paling dominant mempengaruhi pemikiran manusia… trus kenapa koq bisa begitu? Sebab akses menuju ke otak sangat dominant dan langsung, trus otak itu? Otak itu adalah sebuah hardware penyimpanan memory manusia…… jadi kesimpulannya pemikiran itu dipengaruhi secara dominant oleh nomer satu tersebut, kemudian akses atau cara yang kemudian berujung pada pengaplikasian nya pada perbuatan didukung oleh semua informasi yang terekam dalam kemampuan otak menyimpan data yang dia peroleh selama hidupnya.



Box atau wadah atau batasan dalam pikiran manusia

Hmmmm, apa sih yang selalu membatasi sebuah pemikiran pemikiran manusia? Yang membatasinya sebenarnya adalah batasan dalam kemampuan dia mengaktifkan tubuhnya secara utuh (dari ujung rambut kepala sampe ujung kulit kaki atau kaki dalam istilah umumnya), banyak orang berpendapat bahwa perbuatan manusia dipengaruhi oleh kapasitas simpanan data yang ada di otaknya, menurut saya tidaklah begitu sebab otak adalah hardware memory manusia saja, seperti yang telah saya uraikan sebelumnya factor2 dominantnya ada di nomer satu, jadi ketika bisa mengcontrol semua akses dari nomor satu maka kemampuan cara berpikirnya bisa lebih luas, cermat, detail dan tidak sembrono (sesuai dengan kemampuan levelitasnya dalam mengcontrol factor2 di dalam nomer satu).



Out of the Box

Keluar dari batasan pemikiran yang “biasa” (kecenderungan sehari hari) yang kita lakukan sebenarnya lebih banyak cara lagi untuk melakukannya, bukan cuman membaca, melihat dan memahami informasi saja, untuk dapat keluar dari batasan pemikiran standart kita, banyak cara dan variasi yang dapat dilakukan, ya mungkin spele tapi benernya sama saja hasilnya dan kemudian bisa berpikir berbeda (berpikir berbeda dari biasanya adalah konteks arti kata sebenarnya dari out of the box ), mengacu lagi pada kalimat kalimat uraian di atas, kalo kita memahami nomer satu tersebut maka dengan mudah kita bisa berpikir berbeda dari biasanya dengan cara sederhana, contoh cara sederhana nya adalah kalo kebiasaan makan berminyak coba deh diubah untuk tidak makan yang berminyak (begitu pun sebaliknya) dalam beberapa bulan tanpa sadar pemikiran anda sudah mempengaruhi tingkah laku sehari hari anda.



Postif dan negative

Nah kalo bicara tentang yang positif mana yang negative mana? Kalo bicara informasi yang diperoleh yang benar itu mana kan panjang tuh dan bertele tele, maka saya coba uraikan dengan yang sama sama mudah dipahami aja kali ya (soalnya kan kalo bicara informasi yang benar harus cari acuan literature yang valid), paling mudah dengan cara makanan :D kan setiap orang pasti makan to….
Taruh sebuah contoh seperti ini, satu orang makan makanan yang banyak mengadung vitamin dan yang satu selalu makan makanan yang tidak mengadung vitamin …. Itupun kan sudah berbeda cara berpikirnya yang beraplikasi pada perbuatan sehari harinya…. Kurang lebih seperti itu contoh simplenya :) dan itu pula berlaku pada setiap hal, maka andai kata kalo bisa dapet yang bervitamin terus….. termasuk dalam mendapatkan informasi nih….. bisa dibayangkan betapa sehatnya pemikiran orang tersebut, tapi apa ya mungkin kalo kita sendiri slalu kurang informasi? Boro boro dapet informasi yang berpitamin cari yang ga aja kadang susah

Keistimewaan Dan Keunggulan Pemikiran Islam Islam adalah wahyu yang turun dari langit untuk menjadi petunjuk bagi manusia di bumi. Oleh karena itu, ia turun sebagai suatu pemikiran-pemikiran yang mengandung pandangan-pandangan dan solusi-solusi tentang berbagai persoalan kehidupan yang tercantum di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.
Dan sebagai pemikiran langit, Islam dijamin keunggulannya oleh oleh Allah SWT yang Maha Mengetahui lagi Maha Tinggi. Dia SWT berfirman:
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (al-Qur’an) dan agama yang benar untuk Dia menangkan agama itu atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (Qs. at-Taubah [9]: 33).
Juga firman-Nya:
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar Dia menangkan agama itu terhadap semua agama. Dan cukuplah allah sebagai saksi.” (Qs. al-Fath [48]: 28).
Dimana letak keunggulan-keunggulan Islam, tulisan ini mencoba menguraikannya.
Keunggulan Islam Atas Agama-Agama Lain
Keistimewaan dan keunggulan pemikiran Islam dibandingkan dengan agama-agama samawi sebelumnya adalah:
Pertama, agama-agama sebelumnya ditujukan kepada kelompok manusia tertentu dan jaman tertentu. Sedangkan Islam ditujukan kepada seluruh umat manusia hingga hari kiamat .
Para Rasul terdahulu (sebelum Rasulullah Saw) diutus khusus untuk kaum mereka. Allah SWT mengutus Nabi Hud a.s. kepada kaum ‘Aad (lihat Qs. al-A’râf [7]: 65). Kepada kaum Tsamud Allah SWT mengutus Nabi Shalih a.s. (lihat Qs. al-A’râf [7]: 73). Nabi Syu’aib a.s. diutus kepada kaumnya, penduduk Madyan (lihat Qs. al-A’râf [7]: 85). Dan khusus kepada kaum Yahudi Bani Israil Allah SWT mengutus Nabi-nabi di kalangan mereka seperti Yusuf a.s., Musa a.s., Dawud a.s., Sulaiman a.s., Isa a.s. dan lain-lain.
Namun setelah itu para pengikutnya mengabaikan risalah rasul-Nya itu, dan mengubah pemikiran-pemikiran dari risalah yang mereka terima itu setelah Rasul mereka wafat. Allah SWT mengabadikan salah satu tindakan mereka mengubah pemikiran risalah Allah yang dibawa Nabi mereka itu. Dia SWT berfirman:
“(Tetapi) karena mereka melanggar janji mereka, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihart kekhianatan mereka kecuali sedikit dari mereka (yang tidak berkhianat)…” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 13) .
Sedangkan Nabi Muhammad Saw diutus kepada seluruh umat manusia hingga hari kiamat. Beliau adalah penutup para nabi. Allah SWT berfirman:
“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua…” (Qs. al-A’râf [7]: 158).
“Dan Kami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (Qs. Saba [34]: 28).
Juga fiman-Nya:
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (Qs. al-Ahzab [33]: 40).
Kedua, risalah-risalah Rasul terdahulu hanya memecahkan beberapa bagian tertentu dari persoalan kehidupan manusia seperti akidah, ibadah, hubungan laki-laki dan wanita atau persoalan makanan. Sedangkan syariat Islam hadir untuk memecahkan seluruh aspek kehidupan manusia, baik interaksi manusia dengan Tuhan nya, hubungan dia dengan dirinya sendiri, dan interaksinya dengan orang lain.
Syariah Islam mengandung hukum-hukum Islam terhadap masalah-masalah aqidah dan ibadah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT al Khalik, Sang Pencipta, agar jelas keyakinan manusia kepada-Nya dan agar benar tatacara beribadah kepada-Nya. Syariah Islam juga mengandung hukum-hukum Allah SWT tentang akhlak, pakaian, dan makanan yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Juga syariah Islam mengandung hukum-hukum muamalah seperti jual beli, sewa menyewa, akad perusahaan, dan berbagai masalah ekonomi baik mikro maupun makro; hukum-hukum berkaitan dengan masalah politik ketatanegaraan serta pertahanan dan keamanan; hukum-hukum yang berkaitan dengan sanksi-sanksi atas pelanggaran hukum dan tata cara peradilan; yang kesemuanya itu mengatur hubungan manusia yang satu dengan manusia lainnya dalam pergaulan di masyarakat. Kelengkapan syariah Islam itu ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agama bagimu.” (Qs. al-Mâ’idah [5]: 3).
Ketiga, mukjizat para rasul terdahulu bersifat temporal, akan berhenti dan lenyap bersamaan dengan wafatnya rasul tersebut. Misalnya, mukjizat tongkat nabi Musa, tongkat itu hilang ditelan bumi. Tongkat yang memiliki berbagai keistimewaan itu tidak ditemukan lagi hari ini. Demikian juga mukjizat kemampuan menghidupkan orang mati yang dimiliki Nabi Isa, hilang bersama hilangnya Nabi tersebut dari muka bumi. Mukjizat Nabi Sulaiman berupa kemampuannya menundukan burung, jin dan angin, juga telah sirna tiada muncul kembali. Serta mukjizat unta betinanya Nabi Shalih yang menghasilkan susu yang melimpah ruah pun musnah tak bisa diperbaharui. Sedangkan mukjizat Nabi Muhammad saw bersifat kekal dan abadi sampai Hari Kiamat. Mukjizat itu al-Qur’an al-Karim yang menantang manusia untuk membuat yang serupa dengannya. Kitab al-Qur’an yang kita baca hari ini adalah al-Qur’an yang dibacakan dan disampaikan oleh Rasulullah Saw 15 abad yang lalu. Dan jutaan kitab al-Qur’an yang tersebar di seluruh penjuru duani dan ada dari masa ke massa adalah duplikasi tanpa penambahan dan pengurangan dari al-Qur’an yang diterima oleh para sahabat dari beliau Saw di Makkah dan Madinah saat beliau Saw masih hidup dan mendapatkan wahyu dari langit. Inilah satu-satunya kitab yang dijanjikan oleh Allah untuk dipelihara (dijaga) seperti dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an dan Kami pulalah yang akan menjaganya.” (Qs. al-Hijr [15]: 9).
Keunggulan Islam Dari Pemikiran “Buatan” Manusia
Tiga keistimewahan diatas berhubungan dengan agama lagit atau agama samawi. Bila dibandingkan dengan pemikiran-pemikira yang dibuat oleh manusia, seperti ide Sosialisme Materialisme, Sekularisme Kapitalisme, maupun ide-ide produk manusia lainnya, Islam jelas berbeda dengan pemikiran-pemikiran tersebut. Sebab, Islam berasal dari Sang Pencipta semesta alam. Dialah Sang Pencipta yang maha mengetahui dan memahami karekteristik manusia. Sedangkan manusia penuh dengan keterbatasan, termasuk dalam memahami dirinya sendiri sekalipun.
Oleh karena itu, tak seorang yang mampu membuat sistem yang bersifat menyeluruh, sempurna dan rinci untuk mengatur kehidupan manusia layaknya aturan yang diturunkan oleh Sang Pencipta Manusia dan Alam Semesta kepada manusia. Karena kekurangan manusia yang punya sifat-sifat yang kjauh dari kesempurnaan, tidak jarang manusia saling berbeda pandangan dan memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menilai dan memahami sesuatu.
Demikianlah, apa yang dianggap baik sebagian manusia kadang-kadang dianggap buruk oleh yang lain. Disisi lain tidak mungkin secara bersamaan mereka rela dengan aturan yang dibuat orang lain. Bahkan golongan yang tidak ridha tadi bila berhasil memegang tampuk pemerintahan, niscaya mereka akan mengganti sistem yang tadinya dibuat oleh orang yang sebelumnya- sesuai dengan apa yang mereka sepakati dan inginkan.
Sebab lain yang menjadikan aturan buatan manusia tidak sempurna dan tidak layak untuk mengatur manusia secara keseluruhan, adalah tidak adanya pemahaman dari manusia pembuat aturan itu tentang perbedaan karakter masing-masing individu yang hidup dalam masyarakat. Mereka juga tidak memahami perkara-perkara apa saja yang akan muncul dan berkembang di masa yang akan datang. Boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini baik, besok sudah berubah dianggap buruk. Boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini buruk, suatu ketika nanti mereka menganggapnya baik. Bahkan boleh jadi apa yang dianggap manusia hari ini buruk, sebenarnya hakikatnya baik, tapi manusia tidak mengetahui hakikat itu. Demikian pula sebaliknya. Allah SWT menjelaskan keterbatasan anggapan manusia itu dalam firman-Nya:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs. al-Baqarah [2]: 216).
Sebagai contoh misalnya arus besar (mainstream) manusia hari ini adalah mendewa-dewakan sistem demokrasi sebagai sistem kehidupan dan sistem kenegaraan yang terbaik di seluruh dunia. Mereka mengadopsi suara terbanyak sebagai cara yang terbaik dalam memutuskan berbagai persoalan. Bahkan mereka menganggap suara rakyat adalah suara Tuhan. Padahal Allah SWT, Tuhan yang sebenarnya, yang telah menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan, berfirman:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan manusia di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Qs. al-An’âm [6]: 116).
Jika persoalan yang membutuhkan ilmu dan kepakaran diputuskan dengan suara terbanyak, maka suara seorang pakar yang tahu betul masalah tersebut akan dikalahkan oleh suara dua orang bodoh dan tidak punya keahlian sama sekali dalam masalah itu yang diberi hak suara untuk mengambil keputusan. Padahal, jika suatu masalah diserahkan kepada orang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya.
Khatimah
Allah Maha mengetahui apa yang terjadi. Islam yang merupakan syariah Allah telah mengatur secara keseluruhan aktifitas manusia maupun benda yang digunakan sebagai pemuas kebutuhan manusia, baik kebutuhan naluri maupun jasmani. Allah telah memaparkan nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan pemaparan yang komprehensif, untuk menjelaskan status hukum bagi setiap perkara yang akan terjadi, baik yang menyangkut perbuatan manusia maupun benda yang digunakan oleh manusia.
Oleh karena itu, kaum muslim yang meyakini kebenaran Allah dan rasul-Nya tak perlu lagi ragu untuk mengambil pemikiran Islam sebagai pemikiran dan pemahamannya yang akan berguna baginya untuk memandu pandangan, sikap, dan perilakunya dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Karena Islam adalah pemikiran yang tertinggi dan tidak ada yang melebihnya. Wallahua’lam